Rabu, 21 Mei 2014
AKU CINTA INDONESIA
A. Mencintai Budaya Indonesia
Penduduk Indonesia yang besar jumlahnya dengan beraneka ragam budaya merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Kebudayaan daerah merupakan akar budaya bangsa yang perlu dikembangkan da dilestarikan.
Hampir di setiap daerah terdapat bahasa daerah. Bahasa tersebut digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa daerah tetap dijaga dan dipelihara oleh penduduk di daerah bersangkutan, bahkan di daerah-daerah tertentu dijadikan mata pelajaran di sekolah-sekolah. Di samping itu bahasa daerah, terdapat pula berbagai jenis tarian, nyanyian, alat musik, cerita rakyat, pakaian adat, dan upacara tradisional.
Kita harus bangga apabila budaya kita di tampilkan di Negara lain. Mencintai budaya bangsa dapat diwujudkan dengan berbagai aktivitas, di antaranya mengadakan pementasan kesenian daerah, mengadakan lomba busana adat, dan mengadakan berbagai upacara adat perkawinan, khitanan, dan selamatan secara ke daerahan.
B.Cara-cara meningkatkan rasa cinta tanah air
1. Mempelajari sejarah perjuangan para pahlawan pejuang kemerdekaan kita serta menghargai jasa para pahlawan kemerdekaan.
2. Menghormati upacara bendera sebagai perwujudan rasa cinta tanah air dan bangsa Indonesia.
3. Menghormati symbol-simbol Negara seperti lambang burung garuda, bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia raya, dll.
4. Mencintai dan menggunakan produk dalam negeri agar pengusaha local bisa maju sejajar dengan pengusaha asing.
5. Ikut membela serta mempertahankan kedaulatan kemerdekaan bangsa dan Negara Indonesia dengan segenap tumpah darah secara tulus dan iklhas.
6. Turut serta mengawasi jalannya pemerintahan dan membantu meluruskan yang salah sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
7. Membantu mengharumkan nama bangsa dan Negara Indonesia kepada warga Negara asing baik di dalam maupun di luar negeri serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang mencoreng nama baik Indonesia.
8. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada acara-acara resmi dalam negeri.
9. Beribadah dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kemajuan bangsa dan Negara.
10. Membantu mewujudkan ketertiban dan ketemtraman baik di lingkungan sekitar kita maupun secara nasional.
C. Menanamkan Sikap Cinta Tanah Air dan Bernegara.
Sikap cintah tanah air harus ditanamkan kepada anak sejak usia dini agar menjadi manusia yang dapat menghargai bangsa dan negaranya misalnya dengan upacara sederhana setiap hari senin dengan menghormati bendera Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan mengucapkan pancasila. Meskipun lagu Indonesia Raya masih sulit dan panjang untuk ukuran anak usia dini, tetapi dengan membiasakan mengajak menyanyikan setiap hari senin, maka anak akan hafal dan biasa memahami isi lagu. Merah Putih bisa diangkat menjadi sub tema pembelajaran. Pentingnya sebuah lagu kebangsaan dan itu menjadi sebagai identitas dari Negara tersebut, agar dapat mengingatkan kembali betapa pentingnya cinta terhadap Negara.
Kegiatannya bisa diarahkan pada lima aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita bisa menghargai dan mencitai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dengan merawat dan menyimpan dengan baik, menghormati Bendera ketika dikibarkan.
Pada aspek koknitif, anak mengenal konsep bilangan dan angka 2 (2 warna ), mengenal konsep warna merah dan putih, mengenal konsep posisi di atas warna merah, di bawah warna putih, dan mengenal konsep bentuk persegi panjang atau kotak.kegiatannya bisa berupa permainan lomba mengelompokkan bendera yang benar.
Kegiatan lain adalah memperingati hari besar nasional dengan kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dengan menunjukkan miniatur catur dan menceritakannya, gambar rumah dan pakaian adat, mengenakan pakaian adat pada hari Kartini, serta mengunjungi museum terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau berman peran.
Bisa juga diintegrasikan dalam tema lain melalui pembiasaan sikap dan perilaku, misalnya, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, menyanyangi sesama penganut Agama, menyanyangi sesama dam makhluk Tuhan yang lain, tenggang rasa dan menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adalah juga perwuju dan rasa cinta tanah air.
Sehinnga suatu saat nanti, dan saat tumbuh dewasa mereka dapat menghargai betapa pentingnya mencintai tanah air ini, negeri ini, khususnya bagi bangsa dan Negara, mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi terhadap negaranya, dan sekaligus bisa mengharumkan bangsa dan Negara.
D. Kasus-kasus Cinta Tanah Air
1. Bangga menjadi orang Indonesia
Tidak ada yang lebih menbanggakan selain menjadi orang Indonesia, Negara yang diakui orang karena keramahan rakyatnya.kekayaan alam dan budayanya. Lihat saja setiap tahun bahkan hari atau minggu turis asing dari berbagai mancanegara berlomba-lomba datang untuk berlibur ke Indonesia. Mereka selalu menganggap Indonesia itu eksotis. Bayingkan, mereka bahkan rela terbang jauh-jauh hanya untuk menikmati keindahan panorama alam Indonesia. Jadi kita sebagai warga Negara Indonesia sangat rugi kalo kita yang tinggal sedekat ini belum pernah menikmati atau melihat kekayaan alam sendiri.
2. Melestarikan Budaya
Concertoholics pasti diantara kita ada yang tahu kalo para wanita di India lebih bangga mengenakan Sari mereka daripada baju casual sehari - hari. Belakangan trend Sari justru ikut menjamur di Indonesia dengan fashion ala bohemiannya yang sempet booming beberapa waktu lalu. Jadi , sebenarnya kita juga bisa melakukan hal yang sama. Indonesia kan terkenal akan batik - batiknya yang indah dan kebaya - kebayanya yang feminis. Lihat saja sekarang, sudah batik bahkan sudah menjadi must have item di setiap lemari para pecinta mode di indonesia. Nah, siapa tahu ini justru juga akan menjadi trend yang berlaku di luar negeri seperti trend bohemian yang sempat booming di Indonesia. Pakaian hanya salah satu contohnya, masih banyak lagi kekayaan budaya kita yang dapat kita kembangkan hingga membuat decak kagum dunia Internasional.
3. Menggunakan Produk Lokal
Belakangan ini barang-barang impor begitu merajai pasar retail & grosir sehingga barang produksi dalam negeri malah tidak punya tempat di negeri sendiri karena kalah bersaing. Coba kalo kita lihat, beragam barang import menghiasi kita. Mulai dari ponsel, notebook, pakaian sampai makananpun, kita tidak terlepas dari barang import. Ini menyedihkan. Karena sebetulnya banyak dalam negeri yang bagus - bagus dengan kualitas yang bahkan lebih menjanjikan daripada produk luar negeri. Oleh karena itu, ayo Concertoholics, mari kita galakkan penggunaan produk produk dalam negeri. Selain memang bagus kualitasnya, kita juga akan membantu perekonomian dan pengangguran - pengangguran yang semakin banyak sejak industri dalam negeri gulung tikar.
4. Hemat Energi
Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk menghemat energi, salah satunya dengan menghemat listrik. Kenapa harus hemat listrik? Karena untuk mengaktifkan listrik di Indonesia, PLN kita masih menggunakan BBM yang belakangan ini sudah semakin berkurang jumlahnya. Nah, kalo kita tidak melakukan penghematan dari sekarang, BBM ini bisa habis lho. Nah ngeri kan kalo sampai itu terjadi? Pada akhirnya kalo BBM habis, kita justru tidak akan bisa menikmati listrik lagi. Hii, ngeri!! Selain membantu bangsa sendiri, dengan penghematan listrik, kita pun sudah membantu upaya dunia dalam kampanye global warming yang belakangan sedang sangat gencar aksinya.
5. Harumkan Nama Bangsa
Mengharumkan nama bangsa tidak sesulit yang kita bayangkan. Mengharumkan nama bangsa tidak selalu harus dari hal-hal yang susah. Kita sebagai warga tidak harus bahwa kita harus mengusai Kimia, Biologi, Matematika ataupun pelajaran yang sangat susah kita kuasai, untuk mengharumkan nama bangsa kita sesuaikan saja dengan bakat dan minat masing-masing, asalkan dilakukan dengan serius dengan begitu kita akan terasa dan bukan tidak munngkin kalau disuatu saat nanti kita yang dengan bakat kita, kita akan mengharunkan nama bangsa.
Kamis, 15 Mei 2014
Kebudayaan suku bugis
Masyarakat dan Kebudayaan "Suku Bugis" di Sulawesi
Selatan
Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku
Deutero-Melayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi
pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata
pencaharian orang-orang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian
dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe‘)
di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis
orang-orang Bugis itu sendiri di masa lalu.
Sejarah Perkembangan Suku Bugis
Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah
pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun”
(manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan
aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).
Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to
manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga
setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan
komunitasnya. Kata “Bugis” berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan
Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan
tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika
rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We‘ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu‘,
ayahanda dari Sawerigading.
Sawerigading sendiri adalah suami dari We‘ Cudai dan
melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra
terbesar. Sawerigading Opunna Ware‘ (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang
tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah
Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili,
Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Adat Istiadat
Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah
Kabupaten Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama
Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu
kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki
luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa.
Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang
teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan
mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah
dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang
berarti ‘Orang Selatan’.
Adat Pernikahan
Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan
ideal:
1. Assialang Maola
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik
dari pihak ayah
maupun ibu.
2. Assialanna Memang
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik
dari pihak ayah
maupun ibu.
3. Ripaddeppe’ Abelae
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik
dari pihak ayah
maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.
Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap
sumbang (salimara’):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu
Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :
1. Lettu ( lamaran)
Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke
calon mempelai perempuan untuk
menyampaikan keinginannya
untu melamar calon mempelai perempuan.
2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan)
Ialah kunjungan dari pihak laki-laki
ke pihak perempuan untuk membicarakan
waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas
kawin,balanja atau belanja
perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya
3. Madduppa (Mengundang)
Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya
kesepakayan antar kedua bilah
pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai
perkawinan yang
akan dilaksanakan.
4. Mappaccing (Pembersihan)
Ialah ritual yang dilakukan masyarakat
bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum
bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada
malam sebelum akad nikah di mulai,
dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang
dihormati
untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan
menggunakan daun
pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan
untuk memberi berkah
dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk
membersihkan dosa
calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua
orang tua calon mempelai.
Pasangan Pengantin
Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah
prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat,
pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan
mas-kawin ke rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung
diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa
para tamu memberikan kado tau paksolo’. setelah akad nikah dan pesta pernikahan
di rumah mempelai wanita selesai dilalanjutkan dengan acara “mapparola” yaitu
mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.
mappaenre botting :
Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru
mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk
bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol
perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati
rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.
Kepercayaan
Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam
gua atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk)
mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5 waktu,
berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut
animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak
berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.
Hukum Adat
Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang
cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang =
semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia
bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam
tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah
tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya
Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak
mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek
Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan
martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan
turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan
tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun,
adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega
membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan
tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat
Bugis kebanyakan.
Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat
dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera
Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara’ La
Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya,
seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya.
Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam
menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam
menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang =
Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah
Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan
tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada
mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum
tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.
Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang
subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani
dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang.
Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni
bidang pendidikan.
Adat Panen
Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya
panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare
atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa
dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus
terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun
lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo
karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi.
Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen
raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian
ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual
ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk
padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita
pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber
kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi
padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin
menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang
diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Bahasa Suku Bugis
Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di
Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros,
sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten
Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten
Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten
Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat
Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya,
suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum
Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai
tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak
abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.
Aksara Bugis
Kesenian
Alat musik:
1.Kacapi(kecapi)
Salah satu alat musik petik tradisional
Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis,
Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi
ditemukan atau
diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai
perahu yang
memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar
perahu.
Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan,
hajatan,
bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
2. Sinrili
Alat musik yang mernyerupai biaola cuman
kalau biola di mainkan dengan
membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam
keedaan pemain
duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.
3. Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk
dasar yakni bulat panjang dan bundar
seperti rebana.
4. Suling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis,
yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah
punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi
dan
dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval
(baris-berbaris) atau
acara penjemputan tamu.
Seni Tari
• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut
tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda
kesyukuran
dan kehormatan
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan
perempuan-perempuan yang
sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan
ketekunan
perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan
oleh calabai (waria),
namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan
telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung,
dan tari
Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).
Makanan Khas Sulawesi Selatan
1. COTO MAKASSAR
2. KONRO
3. SOP SAUDARA
4. PISANG EPE’
5. PISANG IJO
6. PALU BASSAH
7. PALA BUTUNG
8. NASU PALEKKO (Bebek)
Permainan
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang):
Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga,
Mappasajang (layang-layang), Malonggak
Senjata Suku Bugis
KAWALI senjata khas suku bugis
Pendapat Saya :
Kebudayaan Suku Bugis sangat beraneka ragam bila
dibandingkan dengan kebudayaan lain mulai dari segi adat istiadat hingga
keseniannya yang cukup membuat ketertarikan yang luar biasa untuk bertemu
dengan suku bugis langsung.
1. Assialang Maola
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah
maupun ibu.
2. Assialanna Memang
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah
maupun ibu.
3. Ripaddeppe’ Abelae
Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah
maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu
perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya
Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar kedua bilah
pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang
akan dilaksanakan.
dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati
untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakan daun
pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberi berkah
dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa
calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon mempelai.
Alat musik:
Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau
diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang
memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu.
Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan,
bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain
duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.
seperti rebana.
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan
dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau
acara penjemputan tamu.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
dan kehormatan
sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan
perempuan-perempuan Bugis.
namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari
Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).
1. COTO MAKASSAR
2. KONRO
3. SOP SAUDARA
4. PISANG EPE’
5. PISANG IJO
6. PALU BASSAH
7. PALA BUTUNG
8. NASU PALEKKO (Bebek)
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak
Langganan:
Komentar (Atom)




